Konsumsi alkohol dan ganja memberikan efek buruk bagi kesehatan karena bisa menurunkan kesadaran. Tapi dalam sebuah penelitian pengaruh alkohol lebih berat dari ganja saat seseorang sedang mengemudi.
Sebuah data percobaan klinis menunjukkan tidak ada perbedaan kemampuan mengemudi sebelum dan setelah mengonsumsi ganja. Orang yang mengonsumsi ganja tidak mengalami penurunan kemampuan saat menyetir, hanya saja biasanya kecepatannya menurun.
Hal ini berbeda dengan orang yang minum alkohol. Orang yang minum alkohol akan meningkatkan kecepatan mengemudinya secara signifkan tapi kemampuannya tidak terkontrol.
Penemuan yang diterbitkan dalam Journal of Psychoactive Drugs edisi Maret 2010 hasil tes motorik pada simulator, yang hasilnya tidak ada perbedaan mengemudi sebelum dan setelah merokok ganja.
Peneliti dari Hartford Hospital di Connecticut dan University of Iowa Carver College of Medicine melakukan penilaian simulasi mengemudi dari 85 partisipan termasuk melakukan tes dengan plasebo.
Partisipan memberikan respons terhadap berbagai simulasi kejadian yang terkait dengan risiko kecelakaan mobil, seperti menghindari pengemudi yang memasuki persimpangan secara ilegal, tidak melanggar lampu lalu lintas, menanggapi adanya kendaraan darurat serta menghindari tabrakan dengan binatang yang melintas di jalan raya.
"Tidak ada perbedaan yang ditemukan pada partisipan saat dalam keadaan tenang dan juga setelah mengonsumsi rokok ganja atau plasebo," ujar peneliti seperti dikutip dari Betternetworker.com, Jumat (11/6/2010).
Peneliti juga memberikan catatan bahwa partisipan yang mengonsumsi rokok ganja memiliki kecepatan yang menurun dibandingkan dengan partispan yang menerima plasebo. Namun tidak mempengaruhi kemampuan orang tersebut dalam mengemudi.
Meski demikian risiko dari kecelakaan mengemudi ini tergantung dari dosis ketergantungan orang tersebut terhadap ganja. Sebaliknya sebuah studi melaporkan bahwa pengemudi yang memakai alkohol dan ganja secara bersamaan bisa meningkatkan risiko kecelakaan dibandingkan dengan hanya mengonsumsi salah satunya saja.
Pengaruh Alkohol Lebih Berat dari Ganja Saat Menyetir
Tahapan-tahapan Munculnya Jerawat
Jerawat adalah masalah kulit yang menjengkelkan yang bisa mengganggu kepercayaan diri. Ditambah lagi bekas jerawat yang susah dihilangkan. Ketahui tahapan-tahapan munculnya jerawat agar lebih mudah ditangani.
Jerawat umumnya muncul di wajah, leher, punggung dan dada. Tahapan pada jerawat ini juga menentukan berat atau tidaknya peradangan yang terjadi dan rasa sakit yang muncul.
Jika jerawat masih pada tahap awal, maka pengobatan yang dilakukan cenderung mudah. Seperti dikutip dari eHow, Kamis (10/6/2010) terdapat beberapa tahapan saat jerawat muncul yaitu:
Tahap 0
Tahap ini berarti ada tanda-tanda kecil dari jerawat dan sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, termasuk munculnya jerawat kecil-kecl. Kondisi ini bisa hilang dalam waktu 1-2 hari, kecuali jika ada tanda bahwa jerawat tersebut membesar.
Tahap 1
Ini adalah tahapan awal dari jerawat yang biasanya dimulai dengan adanya komedo (whitehead). Terlihat beberapa bintik putih di wajah terutama di ujung hidung, sudut hidung dan bawah bibir. Kondisi ini tidak menyebabkan peradangan, tapi beberapa hari kemudian akan timbul titik hitam di daerah tersebut. Jika seseorang menghilangkannya dengan cara tidak steril, maka akan ada kesempatan bagi jerawat untuk berkembang lebih lanjut.
Tahap 2
Pada tahap ini akan terlihat peradangan ringan yang biasanya disertai dengan papula. Papula adalah lesi (luka) kulit yang sedikit membesar tapi dalam ukuran kecil dan padat. Kondisi ini juga dikenal dengan jerawat ringan, jika bisa diberikan pengobatan yang baik maka bisa mengendalikan jerawat.
Tahap 3
Dalam tahap ini papula pada kulit sudah mulai berkembang dan terlihat meradang. Pengobatan ini biasanya harus membutuhkan bantuan medis.
Tahap 4
Jerawat yang muncul sudah berubah menjadi pastules. Pada dasarnya pastules ini berisi nanah, terlihat meradang dan ada semacam tip putih. Jika sudah mencapai tahap ini, sebaiknya jerawat tidak dipencet sembarangan.
Tahap 5
Jika masalah kulit ini tidak terkendali, maka bisa memasuki tahap yang parah. Gumpalan (nodule) akan mulai muncul pada tahap ini. Pastules yang ada lebih berkembang di wajah yang berisi nanah, sel-sel kulit mati, sel darah putih, bakteri dan sebum. Gumpalan yang meradang ini bisa meluas ke bagian kulit yang lebih dalam dan menyebabkan rasa sakit. Jika sudah mencapai kulit yang dalam, maka bisa menyebabkan parut.
Tahap 6
Pada tahap ini kulit akan terlihat memerah dan darah bisa muncul dari jerawat ini jika timbul luka. Tahap ini mengakibatkan infeksi dan meningkatkan potensi jerawat berikutnya.
Tahap 7
Dalam tahap ini penggunaan obat diperlukan untuk membantu membersihkan semua gumpalan (bintil) dan jerawat yang mengandung nanah. Sebaiknya pengobatan ini dilakukan oleh seorang dermatolog agar jerawat lebih terkendali dan tidak berkembang lebih lanjut.
Tahap 8
Kondisi ini adalah salah satu tahapan penyembuhan jerawat yang mana seseorang bisa melihat bekas luka atau titik bekas jerawat. Untuk menghilangkannya diperlukan perawatan khusus terhadap bekas luka jerawat untuk menghindari jaringan parut permanen.
Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan timbulnya jerawat yaitu fluktuasi hormon, kelenjar minyak yang terlalu aktif, keturunan, faktor musim, konsumsi kafein, merokok, kehamilan, faktor stres, kurangnya perawatan untuk kulit sehingga kulit kotor atau tidak bersih dan kulit yang berminyak sehingga kotoran mudah untuk menempel.
Jujurlah Sebelum Donor Darah!
Donor darah adalah perbuatan mulia yang membantu menyelamatkan nyawa orang lain. Tapi bukan berarti semua orang bisa melakukannya, karena ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab seseorang sebelum mendonorkan darahnya.
Darah yang didonorkan untuk orang lain sebaiknya bebas dari penyakit menular, infeksi atau adanya kelainan pada darah. Karena itu diperlukan pemeriksaan (screening) terhadap darah yang akan didonorkan untuk orang lain.
dr Hilman Tadjoedin, SpPD, KHOM dalam acara diskusi "Transfusi darah yang aman dan rasional" di RS Kanker Dharmais, Jakarta, Kamis (10/6/2010) menuturkan ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab jujur sebelum berdonor darah, yaitu:
1. Apakah pernah melakukan tes atau pemeriksaan terhadap HIV/AIDS atau hepatitis?
2. Apakah pernah menyuntikkan atau disuntikkan obat-obatan tanpa resep (obat terlarang), baik sekali saja atau beberapa kali?
3. Jika laki-laki, pernahkah melakukan oral atau anal seks dengan orang lain selain pasangannya serta apakah menggunakan alat pengalaman (kondom) atau tidak?
4. Apakah pernah menerima uang atau obat (narkotika) sebagai imbalan dari berhubungan seks (misalnya pekerja seks komersil)?
5. Apakah Anda atau pasangan memiliki HIV/AIDS?
6. Apakah Anda atau pasangan pernah melakukan kontak dengan seseorang yang memiliki hepatitis B atau C?
"Jika ada salah satu pertanyaan yang jawabannya Ya atau jika merasa ragu-ragu maka diindikasikan dengan jawaban Ya, maka orang tersebut tidak boleh mendonorkan darahnya. Seharusnya seseorang menjawab pertanyaan ini dengan jujur," ungkap lulusan kedokteran UI tahun 1989.
dr Hilman juga tidak menyarankan donor darah pada orang yang memiliki masalah:
- Thalasemia
- Anemia
- Sumsum tulang yang terlalu aktif memproduksi sel darah sehingga nilai Hb nya tinggi bahkan bisa mencapai 20 g/dl atau lainnya (normalnya 12-14 g/dl)
- Penyakit infeksi yang bisa menular melalui darah seperti hepatitis B, C atau HIV/AIDS.
- Pasien baru sembuh dari Demam Berdarah atau Malaria
Selain itu darah yang didonorkan juga harus dilakukan pemeriksaan terhadap antibodinya untuk menghindari reaksi transfusi, serta jika diperlukan darah yang akan ditransfusikan diperiksa pada dua kesempatan berbeda. Yang harus diperhatikan pendonor adalah:
- Pendonor tidak sedang menstruasi
- Memiliki berat badan tidak kurang dari 50 kg
- Usianya minimal 17 tahun dan tidak lebih dari 50 tahun
- Dalam kondisi sehat.
- Memiliki tekanan darah (sistolik tidak lebih dari 180 sedangkan diastolik tidak lebih dari 100) serta denyut nadi yang normal.
- Tidak sedang flu atau batuk dan suhu tubuh normal.
Kontrol Tekanan Darah Tinggi anda dengan Lima cara ini
Perawatan untuk penderita tekanann darah tinggi tidak melulu haruss dari obat.
Ada banyak cara untuk untuk menjaga tekanan darah dan membuatt penderita mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan optimal.
Berikut adalah lima cara yang dapat digunakan untuk mengontrol tekanan darah tinggi:
1. Menurunkan berat badan dan mengkonsumsi makanan sehat
Salah satu cara paling efektif untuk mejaga tekanan darah adalah dengan menurunkan berat badan. Kegemukan merupakan penyebab utama tekanan darah tinggi.
Memang, ini bukan hal yang mudah, dibutuhkan dedikasi dan konsistensi. Upaya menurunkan berat badan melibatkan perubahan pola makan dan pola hidup termasuk melakukan olahraga secara rutin.
2. Menghindarkan stres
Stres sangat merugikan bagi tubuh, termasuk dapat memicu tekanan darah tinggi. Nikmati hidup, dan kurangi pikiran yang mengganggu. Beberapa teknik relaksasi bisa diterapkan untuk membuat Anda tetap santai seperti meditasi, yoga, pijat, atau mendengarkan musik.
3. Pengobatan magnet
Pengobatan magnet merupakan satu alternatif untuk tekanan darah tinggi. Belum ada bukti yang benar-banr valid, akan tetapi gelang tembaga dan besi dapat membantu mengurangi efek tekanan darah. Tidak ada efek samping dari terapi ini, jadi tidak ada salahnya untuk mencobanya.
4. Pengobatan chiropractic dan akupuntur
Pengobatan alternatif lain untuk tekanan darah tinggi adalah chiropractic. Terapi pada tulang belakang dapat membangun kembali keseimbangan tubuh.
Sedang akupuntur dapat membantu melepaskan ketegangan pada jantung. Kedua perawatan ini berkontribusi untuk mengurangi stres, sehingga secara dramatis menurunkan tekanan darah tinggi.
5. Herbal dan vitamin
Vitamin baik untuk meningkatkan taraf kesehatan secara umum. Tidak hanya dengan menambahkan suplemen pada diet, namun juga jumlah sayuran dan buah-buahan.
Sayuran dan buah-buahan akan memberikan kontribusi pada pola makan sehat, yang akan membantu Anda menurunkan berat badan.
Tiga unsur utama yang perlu ditingkatkan dalam diet adalah kalsium, potassium, dan megnesium.
Kelima cara diatas akan menjadi pendukung bagi pengobatan utama. Cara ini juga akan membantu meningkatkann kualitas hidup serta membantuu menurunkan tekanann darah tinggi Anda.
Sumber:healthus.org